Aku telah melangkah menuju masa remajaku. Tapi sepertinya langkah menuju masa remaja itu terhenti oleh sikap kanak-kanakku. Tak seburuk itu sebenarnya. Buktinya saja aku sudah mencintai seseorang yang baru-baru ini hadir di kehidupanku. Oh, engkau yang tak mungkin kusebut namanya, tetaplah menjadi milikku. Tetaplah jaga janji-janji yang kita rangkai bersama. Jangan lupakan pula rindu yang sudah kita jalin.
Kau lelaki yang kuangggap sebagai malaikat penjagaku. Kau kesayanganku. Aku merasa nyaman jika kau masih selalu mengingatku. Tapi apakah semua itu cinta atau hanya rasa kecocokan berteman kita saja. Jika tidak, untuk apa kita merangkai janji dan rinndu?
Wahai orang yang baru-baru ini kukenal, tetaplah berada disampingku. Aku merasakan getaran cintamu. Tapi, apakah kau juga? Kuharap rasa kita sama. Aku begitu yakin denganmu. Aku sudah mantapkan sepenuhnya rasaku untukmu. Apakah engkau juga? Kuharap iya. Namun, apakah semua itu hanya angan-anganku saja? Kuharap semuanya akan menjadi kenyataan.
Ternyata angan-angan itu memang sekedar angan-angan. Aku bermimpi terlalu tinggi. Tak mungkin aku siburuk rupa mencintai sang pangeran sepertimu. Aku saja yang tidak sadar diri.
Kini tepat dua tahun aku mengenalmu. Disini aku berharap kau menjawab semua rasaku. Rasa yang sudah kurangkai sejak dua tahun lalu juga. Berilah sedikit rasa iba mu padaku. Aku tak bermaksud mengemis cintamu, tapi aku hanya ingin kau mengerti perasaanku. Percayalah, aku takkan menyakitimu dan membuang rasa yang kita rangkai jika kita bersama. Percayalah..
Memang sejak saat kau mengenal wanita selain aku, kau tak pernah menyapa, tersenyum, bahkan menghubungiku lagi. Setiap hari aku berharap sebuah pesan singkat kuterima atas namamu. Walaupun itu hanya curhatan kecil darimu tentang wanitamu.Oh, aku hanya bermimpi terlalu tinggi. Setiap handphoneku bergetar, aku berharap itu sebuah pesan singkat darimu. Aku menunggumu. Aku menantimu.
Setiap hari aku selalu memandangimu dengan wanitamu itu. Sepertinya wanitamu itu tau tentang hubungan pertemanan (bahkan hubungan special) yang pernah kita jalin. Tolong yakinkan wanitamu agar ia tak mencemburuiku. Aku juga tak nyaman jika dicemburui. Itu hanya menambah beban masalahku, karena secara tidak langsung dia membenciku.
Dulu aku juga pernah dalam posisimu dan wanitamu. Duduk berdua di bangku depan kelas, tertawa renyah, dan sedikit senggolan bahu yang sengaja kalian lakukan ataupun tidak. Aku juga melihat ia bersandar padamu,tapi aku tidak pernah berada dalam posisi seperti itu. Mungkin saja karena aku dan wanitamu berbeda. Ia pacarmu, sedangkan aku orang yang "sangat" tidak penting. Aku sadar diri.
Ingin rasanya aku berbicara "berdua" denganmu untuk mengungkapkan bahwa kau adalah cinta pertamaku. Tapi aku tak pernah mendapatkan kesempatan itu. Kau selalu bersama wanitamu, bahkan tak memberi celah sedikitpun untuk bertemu denganmu. Entah itu cara wanitamu untuk memisahkan kita atau memang keadaannya seperti ini. Cara wanitamu memang benar. Mana mungkin ada wanita yang mau lelakinya dekat dengan wanita lain. Ia terlihat memang tak ingin kehilanganmu.
Bagaimana dengan aku? Andaikan dia ada diposisiku pasti dia tak sanggup. Aku cukup tegar bisa bertahan dua tahun hanya untuk menunggumu. Apa dia bisa melakukan itu? Hatiku ini sebenarnya sakit, tapi setiap senyum yang kutebar ke semua orang dapat menutupi kesakitanku.
Kini aku sendiri. Sendiri berusaha mengobati dan mengeringkan lukaku. Aku tak pernah mau berada di posisi ini. Mencintai lelaki yang sudah menjadi milik orang lain. Aku tak pernh menginginkannya.
Aku sudah bertekad untuk melupakanmu, Wahai cinta pertamaku. Aku harap kau bahagia dengan wanitamu.
Tetaplah menjadi cahaya penerang dalam hidupku.
Kau lelaki yang kuangggap sebagai malaikat penjagaku. Kau kesayanganku. Aku merasa nyaman jika kau masih selalu mengingatku. Tapi apakah semua itu cinta atau hanya rasa kecocokan berteman kita saja. Jika tidak, untuk apa kita merangkai janji dan rinndu?
Wahai orang yang baru-baru ini kukenal, tetaplah berada disampingku. Aku merasakan getaran cintamu. Tapi, apakah kau juga? Kuharap rasa kita sama. Aku begitu yakin denganmu. Aku sudah mantapkan sepenuhnya rasaku untukmu. Apakah engkau juga? Kuharap iya. Namun, apakah semua itu hanya angan-anganku saja? Kuharap semuanya akan menjadi kenyataan.
Ternyata angan-angan itu memang sekedar angan-angan. Aku bermimpi terlalu tinggi. Tak mungkin aku siburuk rupa mencintai sang pangeran sepertimu. Aku saja yang tidak sadar diri.
Kini tepat dua tahun aku mengenalmu. Disini aku berharap kau menjawab semua rasaku. Rasa yang sudah kurangkai sejak dua tahun lalu juga. Berilah sedikit rasa iba mu padaku. Aku tak bermaksud mengemis cintamu, tapi aku hanya ingin kau mengerti perasaanku. Percayalah, aku takkan menyakitimu dan membuang rasa yang kita rangkai jika kita bersama. Percayalah..
Memang sejak saat kau mengenal wanita selain aku, kau tak pernah menyapa, tersenyum, bahkan menghubungiku lagi. Setiap hari aku berharap sebuah pesan singkat kuterima atas namamu. Walaupun itu hanya curhatan kecil darimu tentang wanitamu.Oh, aku hanya bermimpi terlalu tinggi. Setiap handphoneku bergetar, aku berharap itu sebuah pesan singkat darimu. Aku menunggumu. Aku menantimu.
Setiap hari aku selalu memandangimu dengan wanitamu itu. Sepertinya wanitamu itu tau tentang hubungan pertemanan (bahkan hubungan special) yang pernah kita jalin. Tolong yakinkan wanitamu agar ia tak mencemburuiku. Aku juga tak nyaman jika dicemburui. Itu hanya menambah beban masalahku, karena secara tidak langsung dia membenciku.
Dulu aku juga pernah dalam posisimu dan wanitamu. Duduk berdua di bangku depan kelas, tertawa renyah, dan sedikit senggolan bahu yang sengaja kalian lakukan ataupun tidak. Aku juga melihat ia bersandar padamu,tapi aku tidak pernah berada dalam posisi seperti itu. Mungkin saja karena aku dan wanitamu berbeda. Ia pacarmu, sedangkan aku orang yang "sangat" tidak penting. Aku sadar diri.
Ingin rasanya aku berbicara "berdua" denganmu untuk mengungkapkan bahwa kau adalah cinta pertamaku. Tapi aku tak pernah mendapatkan kesempatan itu. Kau selalu bersama wanitamu, bahkan tak memberi celah sedikitpun untuk bertemu denganmu. Entah itu cara wanitamu untuk memisahkan kita atau memang keadaannya seperti ini. Cara wanitamu memang benar. Mana mungkin ada wanita yang mau lelakinya dekat dengan wanita lain. Ia terlihat memang tak ingin kehilanganmu.
Bagaimana dengan aku? Andaikan dia ada diposisiku pasti dia tak sanggup. Aku cukup tegar bisa bertahan dua tahun hanya untuk menunggumu. Apa dia bisa melakukan itu? Hatiku ini sebenarnya sakit, tapi setiap senyum yang kutebar ke semua orang dapat menutupi kesakitanku.
Kini aku sendiri. Sendiri berusaha mengobati dan mengeringkan lukaku. Aku tak pernah mau berada di posisi ini. Mencintai lelaki yang sudah menjadi milik orang lain. Aku tak pernh menginginkannya.
Aku sudah bertekad untuk melupakanmu, Wahai cinta pertamaku. Aku harap kau bahagia dengan wanitamu.
Tetaplah menjadi cahaya penerang dalam hidupku.