Delapan bulan sudah aku meninggalkan masa-masa remajaku di tingkat smp. Saat ini aku sudah duduk di bangku sebuah sekolah menengah atas. Hari-hari kujalani begitu saja tanpa melupakan masa lalu yang pernah kita lewati. Lembaran-lembaran kisah masa lalu itu takkan pernah hilang dari benakku. Ya, kita memang berada di sekolah yang sama. Hal itulah yang membuatku tak mampu melupakan kenangan kita. Otakku bisa melupakannya, tapi hati dan rinduku sangat tidak bisa. Aku memang terlalu bodoh untuk mempertahankan cinta ini, tapi aku tak pernah menyadari bahwa aku akan sebodoh itu jika harus mengingatmu lagi.
Jauh di sudut hatiku yang lembut, masih tersimpan namamu. Sangat rapi terletak disana dan sepertinya takkan ada yang menggantikan. Jujur saja aku lelah menahan sakitku. Kau membuatku trauma akan cerita tentang cinta. Kau membuatku tak berani lagi mencintai lelaki lain. Membuka hati untuk lelaki yang mungkin saja sangat menghargai setiap rasa yang jika aku berikan padanya aku tak bisa. Sudah aku katakan bahwa aku lelah mengenal cinta, lelah merasakan kasih sayang.Aku tertatih jika mengingat rencana yang pernah kita rangkai bersama. Dulu. Ya dulu
Aku telah mencoba mencabik-cabik namamu di hatiku, bukan dipikiranku.Hatilah yang mengingatkanku akan namamu itu, bukan otakku.Karena dulu kau pernah mengatakan bahwa hatikulah yang mengingatkan ku akan namamu, bukan hatiku. Kau juga bilang kalau otak hanya menyampaikan apa yang ingin hati sampaikan.
Kini kita tak bertegur sapa lagi. Itu lebih baik karena kita sudah tidak duduk di kelas yang sama. Oh, itu mungkin cara Tuhan mengurangi perihnya hatiku. Aku memperhatikanmu setiap hari, setiap waktu saat kau selalu menatap dan tersenyum pada wanita lain yang kau cinta saat ini. Ya, aku sadar diri bahwa itu bukan aku. Aku ini wanita, sama seperti dia yang selalu berada di sampingmu. Seharusnya dia mengerti bagaimana sakitnya ketika seorang wanita yang sama dengannya tersakiti karena lelaki yang sedang bersamanya saat ini.
Mungkin terkadang kita bertemu dah beratatap mata, tapi aku mencoba membuang muka agar rasa tak tumbuh lagi dan agar wanitamu tak mencemburui aku. Aku tau bahwa dia mencemburuiku. Tapi apa salahku? Aku tak pernah mengganggu hubungan kalian. Aku tak pernah mengemis cintamu lagi. Aku hanya butuh waktu untuk mengeringkan lukaku. Aku mohon, mengertilah.
Wanitamu itu memang cantik, tapi menurut temanku dia tak lebih cantik dariku. Aku tak tau mengapa temanku melontarkan kata macam itu. Entah untuk menghiburku atau itu benar? Ah aku terlalu bodoh. Jelas saja dia lebih cantik dariku, karena kau lebih memilih dia. Dia juga lebih tajir dariku sepertinya. Aku hanya anak seorang pegawai negeri yang sudah ditentukan gajinya, sedangkan dia. Dia mungkin seorang anak yang beruntung dengan orang tua yang tajir. Mungkin karena itu juga yang membuatmu mencintainya. Aku tak bermaksud berprasangka buruk, aku hanya mencoba membandingkan diriku dengan dirinya yang sebenarnya tak perlu kulakukan
Jauh di sudut hatiku yang lembut, masih tersimpan namamu. Sangat rapi terletak disana dan sepertinya takkan ada yang menggantikan. Jujur saja aku lelah menahan sakitku. Kau membuatku trauma akan cerita tentang cinta. Kau membuatku tak berani lagi mencintai lelaki lain. Membuka hati untuk lelaki yang mungkin saja sangat menghargai setiap rasa yang jika aku berikan padanya aku tak bisa. Sudah aku katakan bahwa aku lelah mengenal cinta, lelah merasakan kasih sayang.Aku tertatih jika mengingat rencana yang pernah kita rangkai bersama. Dulu. Ya dulu
Aku telah mencoba mencabik-cabik namamu di hatiku, bukan dipikiranku.Hatilah yang mengingatkanku akan namamu itu, bukan otakku.Karena dulu kau pernah mengatakan bahwa hatikulah yang mengingatkan ku akan namamu, bukan hatiku. Kau juga bilang kalau otak hanya menyampaikan apa yang ingin hati sampaikan.
Kini kita tak bertegur sapa lagi. Itu lebih baik karena kita sudah tidak duduk di kelas yang sama. Oh, itu mungkin cara Tuhan mengurangi perihnya hatiku. Aku memperhatikanmu setiap hari, setiap waktu saat kau selalu menatap dan tersenyum pada wanita lain yang kau cinta saat ini. Ya, aku sadar diri bahwa itu bukan aku. Aku ini wanita, sama seperti dia yang selalu berada di sampingmu. Seharusnya dia mengerti bagaimana sakitnya ketika seorang wanita yang sama dengannya tersakiti karena lelaki yang sedang bersamanya saat ini.
Mungkin terkadang kita bertemu dah beratatap mata, tapi aku mencoba membuang muka agar rasa tak tumbuh lagi dan agar wanitamu tak mencemburui aku. Aku tau bahwa dia mencemburuiku. Tapi apa salahku? Aku tak pernah mengganggu hubungan kalian. Aku tak pernah mengemis cintamu lagi. Aku hanya butuh waktu untuk mengeringkan lukaku. Aku mohon, mengertilah.
Wanitamu itu memang cantik, tapi menurut temanku dia tak lebih cantik dariku. Aku tak tau mengapa temanku melontarkan kata macam itu. Entah untuk menghiburku atau itu benar? Ah aku terlalu bodoh. Jelas saja dia lebih cantik dariku, karena kau lebih memilih dia. Dia juga lebih tajir dariku sepertinya. Aku hanya anak seorang pegawai negeri yang sudah ditentukan gajinya, sedangkan dia. Dia mungkin seorang anak yang beruntung dengan orang tua yang tajir. Mungkin karena itu juga yang membuatmu mencintainya. Aku tak bermaksud berprasangka buruk, aku hanya mencoba membandingkan diriku dengan dirinya yang sebenarnya tak perlu kulakukan
Kini aku menyerah. Aku rela meninggalkan rindu dan janji yang dulu pernah kita rangkai bersama. Ya, dulu. Oh, mungkin kau sudah lupa. Tapi tak apalah, aku ikhlas melepasmu. Berbagialahmu dengannya. Ingat, aku mencintaimu wahai orang yang tak pernah mengerti aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar